Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999




Download 372.04 Kb.
TitlePerang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999
Page4/6
Date conversion30.11.2012
Size372.04 Kb.
TypeDocuments
Sourcehttp://www.yale.edu/gsp/indonesia/Ben Kiernan2.rtf
1   2   3   4   5   6

^ Kelaparan dan Pembantaian


Menurut dokumen-dokumen pemerintah Indonesia yang dirampas Fretilin pada tahun 1982, disebutkan bahwa sebagai akibat kerusuhan, banyak kepala desa diganti dan pada saat bersamaan desa-desa baru lahir. Pengalaman dua desa di bagian timur cukup menarik untuk diperhatikan: “Dengan terjadinya gejolak,” penduduk “mengungsi ke wilayah hutan,” dan baru kembali pada bulan Mei 1979, ketika mereka “dimukimkan” kembali di kota-kota distrik. “Tetapi hal ini menyebabkan mereka tidak lagi dapat bertani di atas lahan mereka sendiri, dan kelaparan pun merajalela.”157 Bencana kelaparan terjadi di Timor-Timur pada tahun 1979. Pemboman oleh pihak Indonesia terhadap rumah-rumah penduduk dan kebun di wilayah perbukitakan telah menyebabkan banyak orang Timor di dataran rendah menyerah. Tetapi makanan cukup langka di wilayah itu, dan kontrol pihak Indonesia semakin meluas. Jumlah penduduk meningkat hampir dua kali lipat dari 329,000 sampai sekitar 522,000 pada pertengahan 1979.158 Lebih dari 120,000 orang Timor hilang, sebagian besar menjadi korban kelaparan dan pembantaian serta represi terus menerus oleh pihak Indonesia. Taylor melaporkan bahwa pada tanggal 23 November 1978, pasukan Indonesia menembak mati lima ratus orang yang menyerah sejak jatuhnya kekuatan perlawanan di pegunungan Matebian; Segera setelah peristiwa itu terjadi pula pembantaian yang hampir sama di Taipo. Dua insiden lainnya terjadi di bagian timur pada bulan April–Mei 1979 yang mana pasukan Indonesia membunuh 97 dan 118 orang.159 Juga di bagian tengah, pihak Indonesia membantai Joao Branco dan empat puluh orang lainnya pada akhir 1979.160 Dalam pembantaian pada bulan September 1981 di Tenggara Dili, empar ratus orang tewas, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan.161 Pada bulan Agustus 1983, enam puluh orang pria, perempuan dan anak-anak diikat bersama-sama dan digilas oleh buldoser di Malim Luro dekat pantai selatan. Pada tanggal 21–22 Agustus, pasukan Indonesia membakar hiduphidup sedikitnya delapan puluh orang di sebelah selatan desa Kraras, and kemudian melakukan “penyisiran” wilayah tetangganya yang mana lima ratus orang tewas. Dari sekitar dua puluh ribu minoritas etnis Cina di Timor-Timur, mereka yang selamat dapat dihitung hanya mencapai “beberapa ribu” orang pada tahun 1985.162


Seiring dengan pertempuran yang terus berlanjut, pasukan khusus Indonesia mulai bekerja merekrut sebuah tim paramiliter yang berasal dari orang-orang Timor-Timur, yang melakukan pembantaian besar-besaran pada tahun 1990an. Dalam dua bulan pertama tahun 1982, tim Railakan I, yang terdiri dari lima puluh dua pasukan, membunuh delapan pemberontak Falintil dan menangkap tiga puluh dua orang lainnya. Dalam serangan yang ditujukan pada kekuatan pasukan Xanana pada bulan September, Railakan I membunuh sembilan orang lainnya pasukan Fretilin.163


^ Kebangkitan Regional


Pada awal tahun 1980an, meskipun mereka mengalami pukulan besar, gerakan perlawanan di Timor-Timur tetap dapat bertahan menghadapi kekuatan Jakarta, yang menyebut Fretilin sebagai Gerakan Pengacau Keamanan.164 Pada tahun 1982, komandan-komandan Indonesia di Dili mengakui dalam sebuah dokumen rahasia bahwa “meskipun terdapat tekanan kuat dan kondisi yang tidak menguntungkan dalam operasi-operasi mereka, GPK masih tetap memiliki kekuatan di hutan-hutan.” Sebagai contoh, dari enam desa-desa di Zona Timur, 293 penduduk masih “tinggal di hutan.” Setelah tujuh tahun pendudukan, “jaringan pendukung” Fretilin masih hidup “di setiap pemukiman, desa-desa dan perkotaan.” Jaringan bawah tanah ini berkait erat dengan adat dan sistem kekerabatan.” Jakarta berusaha keras “menghambat wilayah-wilayah tradisional GPK” dan “menghancurkan GPK sampai ke akar-akarnya.”165 Wilayah yang telah diduduki harus “benar-benar dibersihkan dari pengaruh dan kehadiran gerilya.” Deportasi terus berjalan; dan di satu sektor di wilayah Zona Timur, tiga puluh desa telah dipindahkan pada tahun 1982.166

Komandan pasukan Indonesia di Dili, Kolonel A. Sahala Rajagukguk, mengatakan kepada bawahannya bahwa sembilan kelompok Fretilin masih terus bergerak. Dari empat “kelompok kecil yang tak terorganisir” dan salah satunya beroperasi dekat Timor Barat dan Dili, “di perbatasan distrik Ermera , dan di distrik Dili, Liquica dan Ailiu.” Dengan memberikan catatan ringkas mengenai kelompok-kelompok tersebut, Rajagukguk menyimpulkan bahwa “mereka masih dapat mengadakan rapat di tempat-tempat tertentu ... Rapat-rapat masih dapat dilakukan di di wilayah timur seperti Koaliu, Matabean dan Macadique atau Bulio. Dalam beberapa peristiwa, terdapat sebuah pemusatan kekuatan di satu tempat”. Selanjutnya Rajagukguk mengatakan: “di sektor Timur rakyat mendukung kekuatan yang paling militan dan sulit (bagi pasukan Indonesia) untuk mengungkapkan jati diri mereka. Hal ini dimungkikan terjadi karena ikatan keluarga yang erat dan kuat dan juga anggota-anggota GPK dimungkinkan melakukan konsolidasi untuk pimpinan politik mereka di wilayah ini selama beberapa tahun. Hal ini juga karena sebagian besar penduduk di wilayah-wilayah ini telah mengungsi di wilayah pegunungan dan baru kembali ke desa mereka apda tahun 1979. Faktor lainnya karena sebagai besar dari pendukung partai-partai tersebut tealh mengungsi di wilayah pegunungan dan hanya kembali ke wilayah asal mereka Dalam situasi seperti itu, GPK secara sadar memiliki wilayah timur dan pedalaman sebagai daerah kekuatan mereka..”167


^ Menormalkan Pendudukan, 1983–99


Pada tahun 1982, pihak intelejen Indonesia menyadari bahwa masih tersisa pimpinan gerakan yang penting, yaitu Mauk Moruk, Mau Hunu, David Alex, Kilik, Txay, dan Loro Timur Anan.168 Jika sebelumnya pihak Jakarta tidak mengetahui secara persis bagaimana posisi kepemimpinan Xanana, satu tahun kemudian mereka mulai mengetahui hal ini. Panglima angkatan bersenjata Indonesia yang baru, Jendral Mo­hammad Yusuf, sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan berunding dengan Fretilin. Xanana melakukan perundingan selama dua hari dengan orang-orang Indonesia pada tanggal 21 dan 23 Maret 1983. Jakarta kemudian meninggalkan langkah perundingan mereka. Bagaimanapun gencatan senjata tersebut secara tidak langsung menjadi bukti pengakuan Indonesia terhadap kekuatan militer Fretilin. Pertempuran untuk sementara waktu berhenti, dan pada saat bersamaan gerakan Falantil berkembang mencapai sekitar seribu kekuatan gerilya di beberapa tempat. Pada tahun 1984, pihak Indonesia melakukan penambahan pasukan hingga empat belas ribu sampai dua puluh ribu orang. Railakan I, sebuah tim paramiliter lokal yang direkrut oleh pihak Indonesia, meningkat jumlahnya dari lima puluh dua menjadi sembilan puluh orang. Dari bulan Maret sampai Desember 1984, tim ini telah membunuh sekitar tiga puluh dua orang Falintil dan menangkap sekitar 12 orang lainnya. Ketika peperangan meningkat, Suharto mengumumkan situasi darurat di Timor-Timur pada 9 September 1985.169


Douglas Kammen memandang gencatan senjata 1983 sebagai sebuah langkah “bersifat sementara dan sudah barang tentu abortif dalam upaya awal” menormalkan kontrol mereka terhadap Timor-Timur dan mempertahankan pengakuan luar negeri mengenai integrasi Timor-Timur ke dalam wilayah Indonesia. Bagaimanapun langkah ini telah disertai “kekerasan-kekerasan lain” seperti meningkatnya penggunaan “sebuah tim” tempur dari Timor-Timur. Suharto mencoba langkah kedua ketika pada tahun 1988. Ia menyatakan Timor-Timur “berstatus sama” dengan dua puluh enam propinsi Indonesia. Jakarta kemudian mengumumkan “terbukanya” wilayah Timor-Timur dan dimulainya Operasi Senyum. Pada tahun 1989 Paus mengunjungi wilayah ini. Tetapi Kammen mengatakan, “keterbukaan wilayah yang lebih besar disertai pula dengan peningkatan operasi-operasi rahasia dan teror,” khususnya yang ditujukan untuk melawan strategi baru Fretilin yang membangun gerakan protes damai di perkotaan. Indonesia juga mencoba upaya menangkap Xanana yang secara diam-diam telah bergerak ke Dili pada bulan Februari 1991.170 Pada bulan Agustus 1991, jumlah pasukan Indonesia di Timor-Timur mencapai sekitar 20,700, termasuk 11,000 pasukan “dari luar” yang dirotasi dari propinsi-propinsi lainnya, dan 4,800 pasukan “territorial” atau lokal, dan anggota lainnya dari angkatan bersenjata Indonesia. Samuel Moore menulis, “Orang Timor-Timur terus hidup di bawah pendudukan militer paling intensif dalam sejarah modern,” yang mana sekitar sepuluh sampai empat belas orang pasukan ditempatkan di masing-masing desa atau RT, yang dapat dibandingkan bahwa terdapat satu orang tentara dari tiga puluh penduduk sipil. Pada tanggal 12 November 1991, tentara menembaki dan menusuk dengan bayonet tiga ratus orang yang berdemonstrasi di sekitar pemakaman Santa Cruz, sebuah peristiwa yang secara diam-diam difilmkan seorang jour­nalis dan sekaligus membawa masalah Timor-Timur dalam perhatian dunia. Setahun kemudian, Xanana berhasil ditemukan dan ditangkap.171 Bagaimanapun gerakan perlawanan tetap hidup. Pada saat yang sama, aksi-aksi protes di perkotaan meningkat.


Pada bulan Mei 1990, pihak Jakarta telah mengganti Komando Operasi Keamanan (Koopskam) dengan Komando Pelaksanaan Operasi (Kolakops). Sebagai tanggapan terhadap kecaman internasional dalam pembantaian Santra Cruz, batalyon-batalyon pasukan dari luar mulai ditarik ke luar Timor-Timur. Mereka digantikan pasukan-pasukan lokal. Langkah ketiga dalam upaya normalisasi Timor-Timur adalah melikuidasi Kolakops pada bulan April 1993. Semua tanggung jawab masalah keamanan, termasuk sembilan batalion yang bertugas berkeliling wilayah itu, sekarang ini dialihkan dibawah kontrol Korem 164 yang bermarkas di Dili. Tetapi jelas “semuanya berada dibawah arahan orang-orang non-Timor.” 172 Pada bulan April 1994, jumlah batalyon pasukan dibawah Korem 164 dikurangi samapi tujuh unit, dan pihak militer mulai membentuk apa ayng disebut sebagai Garda Paksi, yang memiliki keanggotaan ratusan organisasi pada tahun 1996. Kekuatan milisi ini berkembang dengan cepat. Mantan komandan Railakan I sebelumnya memiliki seribu seratus anggota milisi pada tahun 1996. Kekuatan milisi ini berkembang dengan cepat. Pada tahun 1995, mantan komandan tim paramiliter Railakan I telah memimpin tiga ratus orang-atau ratusan anggota milisi yang terlatih baik. Pada tahun 1997-98, terdapat dua belas tim paramiliter dengan anggota mencapai sekitar empat ribu milisi. Pada 1997–98, terdapat dua belas tim paramiliter dengan anggota mencapai sekitar empat sampai delapan ribu orang. Juga pada tahun 1997–98, jumlah batalyon reguler dibawah Korem 164 meningkat kembali menjadi tiga belas batalyon.173 Pada bulan Agustus 1998, jumlah total pasukan Indonesia di wilayah Timor-Timur mencapai sekitar 21.600 pasukan, termasuk di dalamnya 8.000 pasukan dari luar.174


Pada bulan Mei 1998, Suharto jatuh dari kekuasaan. Tekanan terhadap Jakarta untuk melangsungkan referendum di wilayah itu semakin meningkat yang disambut dengan meningkatnya aktivitas milisi Timor-Timur. Pihak angkatan darat mensponsori pembentukan beberapa kekuatan milisi baru pada akhir 1998.175


Kepemimpinan dalam tubuh Fretilin mengalami nasib buruk setelah jatuhnya Suharto. Komandan Operasional Falintil, Mauk Muruk, yang telah menyerah pada tahun 1985, menghabiskan sisa waktunya di ruang isolasi psikiatrik rumah sakit militer di Jakarta.176 Pada bulan Juni 1990, Mau Hudo diangkat sebagai wakil ketua Fretilin, tetapi ia segera tertangkap pada bulan Januari 1992. Setelah penangkapan Xanana pada bulan November tahun tersebut, David Alex diangkat sebagai kepala staf Falan­til. Ia terluka dan berhasil ditangkap oleh pasukan Indonesia pada bulan Juni 1997 dan dianggap tewas. Penggantinya adalah Konis Santana, yang tewas dalam sebuah kecelakaan bulan Maret 1998. Ia digantikan oleh Taur Matan Ruak, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala staf pada pertengahan tahun 1980.177 Meskipun terjadi kemunduran, sekitar enam ratus sampai sembilan ratus veteran pasukan Fretilin tetap berjuang di hutan-hutan, dan mendapat tambahan enam ratus tenaga baru yang direkrut pada tahun 1998. Pasukan Taur Matan Ruak’ yang berjumlah seribu lima ratus orang adalah pihak yang menyambut kedatangan penjaga perdamaian PBB ketika mereka tiba di wilayah itu pada bulan September 1999. 178


Terlepas dari kekalahan militer, Fretilin tetap mampu membangun kekuatan basis pendukung yang luas. Pada tahun 1992, dalam sebuah laporan intelejen Indonesia dengan judul “Data mengenai desa-desa yang tidak aman” , disebutkan bahwa hanya 163 dari 442 desa di Timor-Timur yang masuk dalam kategori aman dan damai. Tujuh puluh sembilan desa mendapat kode “merah” atau “terganggu” (yang kemungkinan berada dibawah kontrol Fretilin). Pada tahun 1997, intelejen Korem 164 memperkirakan Gerakan Pengacau Keamanan memiliki anggota di ibukota yang mencapai 1500 milisi, dan pada tahun 1999 jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar enam ribu anggota untuk seluruh Timor.Timur. 179


Pada bulan September 1998, lima partai yang saling berperang satu sama lainnya di Timor-Timur membangun langkah rekonsiliasi yang bersifat historis. Mereka menggabungkan diri dalam sebuah organisasi payung baru, Dewan Perlawanan Nasional Timor-Timur the Timorese Council of National Resistance (CNRT), dan memilih Xanana Gusmao yang masih berstatus tahanan politik sebagai ketua.180 Setahun kemudian, 79 persen orang Timor memilih untuk merdeka dalam sebuah referendum yang diorganisir oleh PBB.


^ Genosida anti-gerilya


Jakarta dengan demikian gagal memenuhi target menguasai Timor-Timur. Pertanyaannya adalah ideologi seperti apakah yang melahirkan Genosida dan sekaligus pembenaran terhadapnya? Di Remexio dan Aileu, tempat “setiap orang di atas tiga tahun ditembak mati” pada awal tahun 1976. Pasukan Indonesia menjelaskan bahwa orang-orang lokal telah “terjangkiti benih-benih Fretilin.” Setelah pembantaian Lacluta pada bulan Sep­tember 1981, seorang prajurit nampaknya mencoba menjelaskan dengan mengatakan, “Ketika anda akan membersihkan semak belukar, bukankah anda juga membunuh ular-ular yang ada, tidak peduli besar dan kecil.” Pada tahun 1984, sebuah gerakan militer besar-besaran di wilayah Timor-Timur telah menyerukan pemusnahan kekuatan Fretilin, “sampai generasi keempat mereka.” 181


Perpaduan metafora biologis dan pertanian memang sering dijumpai di setiap rejim genosidal.182 Apabila dalam pembantaian lebih dari 500,000 orang-orang komunis di Indonesia pada tahun 1965–66 langkah itu tidak disertai dengan pemusnahan kelompok etnis minoritas, dalam ekspansi teritorial satu dekade selanjutnya kekuatan represif Jakarta menjadikan orang-orang Tionghoa di Timor-Timur sebagai target “pembunuhan selektif.”183


Penetapan target multi generasi dari kekuatan Fretilin oleh pihak Indonesia dapat dikatakan memiliki unsur genosida. Pada awal tahun 1999, dengan mendekatnya waktu pelaksanaan referendum yang disponsori PBB, pihak militer dan komandan milisi Indonesia mengancam untuk “... menghancurkan semua pendukung gerakan kemerdekaan, orang tua mereka, anak laki-laki dan perempuan serta cucu-cucunya.” 184 Dalam sebuah pertemuaan di Bali pada bulan Februari 1999, komandan pasukan Indonesia, Adam Damiri dan Mahidin Simbolon telah memerintahkan milisi-milisi “melenyapkan para pimpinan dan pendukung CNRT.”185 Pada tanggal 16 Februari, dalam pertemuan dengan seorang pimpinan milisi, Letnan Kolonel Yahyat Sudrajad menyerukan pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpin gerakan pro-kemerdekaan, anak-anak dan cucu mereka. “Tak satupun dari anggota keluarga mereka akan dibiarkan hidup, ujar sang kolonel dalam pertemuan tersebut. ”186. Gubernur yang ditunjuk oleh pihak Jakarta untuk wilayah Timor-Timur adalah Abilio Soares, yang memerintahkan “para pendeta dan biarawati dibunuh.”187 (Soares diadili di Jakarta pada tahun 2002) Pimpinan-pimpinan milisi telah menyerukan kepada para pendukung mereka untuk “melakukan pembersihan terhadap setiap pengkhianat integrasi. Tangkap dan bunuh mereka.”188 Tono Suratman, komandan Korem 164 Dili, memperingatkan bahwa “jika gerakan pro-kemerdekaan menang, ... semuanya akan dihancurkan. Keadaannya akan lebih buruk dibanding dua puluh tiga tahun yang lampau.”189 Sebuah dokumen pihak angkatan darat Indonesia pada bulan Mei 1999 memerintahkan bahwa “pembantaian harus dilakukan dari desa-ke-desa setelah pengumuman kotak suara dikeluarkan. Gerakan kemerdekaan Timor-Timur harus dihapuskan dari tingkat pimpinan sampai dengan akar-akarnya.”190

1   2   3   4   5   6

Similar:

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 iconDog Day Afternoon (Drama) (1975) © 1999 by Raymond Weschler Major characters

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 iconChallenging Tradition, Changing Society : the Role of Women in East Timor' s Transition to Independence
«It may be that women are speaking about it for the first time but it is probably the single most important issue facing Timorese...

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 iconWireless transmission of video for biomechanical analysis timur Mirzoev, Ph. D

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 iconCrisis in a Backwater 1941 in Portuguese Timor

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 iconThinking East Timor, Indonesia and Southeast Asia

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 iconTimor Leste: Minimum Wages, Job Guarantees, Social Welfare Payments or Basic Income?

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 iconFajar surya cipta jl. Cililitan Kecil No. 16A, Jakarta Timur D. K. I. Jakarta 13640 Phone

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 iconAnnual letters 1999-2007 november days in mexico (1999) Primera Parte: La Entrada

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 icon552. 216-70 economic price adjustment—fss multiple award schedule contracts (sep 1999) (alternate i—sep 1999) (deviation I apr 2007)

Perang, Genosida dan Gerakan Perlawanan di Timor-Timur, 1975-1999 iconThis article appeared in the January 1999 issue and is reprinted with permission from the world & I, a publication of the washington times corporation, copyright (c) 1999

Place this button on your site:
Documents


The database is protected by copyright ©predoc.org 2014
send message
Documents
Main page